KETIKA KU MENGAJAR

KETIKA KU MENGAJAR

Ketika ku mengajar, aku hanya berusaha mengingat-ingat saat guru mengajarku dulu. Pada ini menghendaki seorang guru harus punya ilmu yang transfer-rar.
 Lalu ku mencoba melakukan tahapan-tahapan (deferensiasi) agar penjelasanku mudah dipaham para siswa. Bukan sekedar tindakan taktis dan praktis ala positivisme John Lock, kalau gak salah. Lalu aku penasaran apa reaksi mereka. Aku tanya, paham? Biasanya yang paham itu diam. yang gak paham juga diam. Tapi tampak gestur tubuhnya mulai bosan sambil berkata, pak cerita..! Itu kenapa buatku momok cerita itu yang membuatku gusar, apakah pelajaranku terlalu sulit atau aku membosankan, atau mereka malas diajak berpikir.
Aku mengadakan pentahapan ini ingin mereka pengalaman dalam arus memahami pelajaran. Bahwa manggis itu manis, walaupun bagi sebagian orang yang menderita kencing manis itu bisa berbahaya.Yang pada akhirnya mereka dapat duduk bersama diskusi tentang ilmu.
Tapi untuk sementara pelajaranku adalah kesenian seni musik irama Fa'lala yang semoga saja berangkat dari kesukaan musik itu mereka akan menambah ingin mengetahui kunci-kuncinya. Dan syukur-syukur mereka membuat musik-musik sejenis dengan kunci yang ada.
Belakangan aku sadar, kurang sabar meniti pentahapan yang sudah kurancang sendiri. Aku suka nerocos kecepatan menerangkan yang membuat pemahaman otak mereka terdencar buyar sehingga nyaris simpul-simpul pemahaman yang selama ini telah mengendap menjadi riuh, dan keruh sehingga tak minat lagi.
Seolah mereka ingin melupakan kenangan-kenangan masa lalu dan ingin mulai dari nol. Itu tidak mungkin. Itu tahshilul hasil. Kontra produktif.
Jadi biarlah airnya tenang dulu baru kupancing.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia aral