Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

OBAK SODOR

OBAK SODOR Malam adalah gaun pengantin bulan bertabur bintang di sela-sela mega putih. Hingga pada malam purna, matahari membuahi sang bulan. Tampak seonggok janin di bulatan bulan seperti batu dalam dekapan sang ibu. Kami, anak-anak bersorak ceria dan bermain gembira menyambutnya. Kami berhamburan lepas dari rumah menuju tengah lapang dan bebas dari cengkeram kekhawatiran ayah bunda. Karena mereka percaya malam ini malam pengantin antara bulan dan matahari yang sedang kami rayakan di atas panggung ibu pertiwi bermain bersama di bawah sinar rembulan dalam permainan Obak Sodor. Malam ini giliran ibu yang jadi lakon, harus bersedia menemukan kami yang bersembunyi dengan mata tertutup. Awalnya si lakon membungkukkan badannya untuk memberi kesempatan kami mencari tempat sembunyi. Dan mencuri kelengahan si lakon agar ia terus “jadi”. Namun biar pun sang ibu membungkuk mencari kami, kami pun akan ditemukannya karena di bantu bulan. Setiap kegelapan yang kami sembunyikan diri, selalu terin...

KAKTUS YANG LAYU

KAKTUS YANG LAYU Hatimu pun mencair juga "Jangan terlalu kuat menarik diri bila kau tak mampu bertahan, akan memantul keras di tubuhmu sendiri" Idealisme yang dibangun oleh image kebesaran membuatmu terapung diatas menara gading yang tak lagi menjejak bumi rumput yang indah. Biar pun kau tampak menjulang tinggi, kau tetap tak mampu dengarkan isakan ranting yang merayap di dindingmu. Tak mungkin kau tundukkan kepalamu menjemput tangan mereka. Hingga kau berikan isyarah kepada mereka dengan melempar batu hingga kau sendiri akhirnya runtuh. Tak mungkin hatiku mencair dalam talenta yang kemarin sore menyungkurkan tubuhku dalam derita. Tak rela kuserahkan begitu saja yang kuat ini, yang mencair segampang itu oleh buai yang masih lesu. Bahwa kaktus tak bersedia mengakhiri ketegarannya di tengah salju meski telah layu menjadi air. Tak berarti aku tak ingin rebah menjadi kail mengalir bersama mereka, menuruni kaki gunung hingga muara jernih, membuka hidup baru. Hanya aku...

Rumah Jengah

RUMAH JENGAH 06/03/2012 "Inilah dunia, deritanya tiada akhir" Setinggi apapun kau bangun rumahmu suatu saat ia akan hancur. Setumpuk apapun harta yang kau kumpulkan, pasti aka  lenyap. Telah tiga bulan lewati tahun 2012, setitik tahun kulewati di rumah ini. Aku belum juga menemukan ketenangan hati. Emosi yang mengepul di dinding-dinding rumah manambal panas hawa isinya. Bahkan tak ada yang menarik sekedar melayangkan pandang padanya. Semua tampak jengah. Aku tahu pemandangan itu harus kubaca dengan ilmu, ku maknai dengan dzikir, ku gerit fikir. Tapi hatiku kadung membeku dengan semua yang ku tangkap tanpa mencair. Satu harapan yang besar tampak misteri bahkan raib bisa jadi. Satu kecemasan ia akan lahir. Inikah takdir? Belum lagi hari menghadap atas semua yang diberi, yang dititipkan, yang diajarkan, yang dipesankan.... Hanya menjadi cemooh.... Rugi yang berkepanjangan. Harus kau bangun..! Tidak! Aku berenang mengalir Kau akan tenggelam..! Tidak! Aku terbang menyin...

PUISI WS RENDRA

Jari-jariku meraba-raba dinding sepi Mataku menatap cakrawala jauh sekali Sukmaku bersujud kepada-Mu ya Robbi Sesalan di atas dosa mendayu bertubi-tubi