KAKTUS YANG LAYU

KAKTUS YANG LAYU

Hatimu pun mencair juga
"Jangan terlalu kuat menarik diri
bila kau tak mampu bertahan,
akan memantul keras di tubuhmu sendiri"

Idealisme yang dibangun oleh image kebesaran membuatmu terapung diatas menara gading yang tak lagi menjejak bumi rumput yang indah.
Biar pun kau tampak menjulang tinggi, kau tetap tak mampu dengarkan isakan ranting yang merayap di dindingmu.
Tak mungkin kau tundukkan kepalamu menjemput tangan mereka. Hingga kau berikan isyarah kepada mereka dengan melempar batu hingga kau sendiri akhirnya runtuh.
Tak mungkin hatiku mencair dalam talenta yang kemarin sore menyungkurkan tubuhku dalam derita.
Tak rela kuserahkan begitu saja yang kuat ini, yang mencair segampang itu oleh buai yang masih lesu. Bahwa kaktus tak bersedia mengakhiri ketegarannya di tengah salju meski telah layu menjadi air.
Tak berarti aku tak ingin rebah menjadi kail mengalir bersama mereka, menuruni kaki gunung hingga muara jernih, membuka hidup baru.
Hanya aku malu pada diriku sendiri yang hijau di tengah lembah salju yang putih dan tak mampu biaskan hijau di seluruh permukaan hutan ini.
Namun aku juga enggan bertengger seorang diri diatas sana, menjengkar mentari yang akan membuat seluruh tubuh kian menipis, layu dan mati. (bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia aral