OBAK SODOR
OBAK SODOR
Malam adalah gaun pengantin bulan bertabur bintang di sela-sela mega putih. Hingga pada malam purna, matahari membuahi sang bulan. Tampak seonggok janin di bulatan bulan seperti batu dalam dekapan sang ibu. Kami, anak-anak bersorak ceria dan bermain gembira menyambutnya.
Kami berhamburan lepas dari rumah menuju tengah lapang dan bebas dari cengkeram kekhawatiran ayah bunda. Karena mereka percaya malam ini malam pengantin antara bulan dan matahari yang sedang kami rayakan di atas panggung ibu pertiwi bermain bersama di bawah sinar rembulan dalam permainan Obak Sodor.
Malam ini giliran ibu yang jadi lakon, harus bersedia menemukan kami yang bersembunyi dengan mata tertutup. Awalnya si lakon membungkukkan badannya untuk memberi kesempatan kami mencari tempat sembunyi. Dan mencuri kelengahan si lakon agar ia terus “jadi”. Namun biar pun sang ibu membungkuk mencari kami, kami pun akan ditemukannya karena di bantu bulan. Setiap kegelapan yang kami sembunyikan diri, selalu terintai oleh sinar bulan dan ibu hanya cukup menggerakkan punggungnya ke kanan memudahkan kami goyang dan jatuh di tangan lawan.
Hingga larut malam kami kelelahan bermain dan dengan basah kuyup keringat menuju rumah, beringkus bantal di atas bayang. Tidur lelap.
Hari pun terang menyerngitkan sinar panasnya di kulit kami. Lama kelamaan, “Aduh...!” Seperti ada yang mencubit lenganku. Aku pun terbangun dan termangu menerka-nerka dengan isi kepala yang baru setengah ini,”Siapa tadi?”
Kucari seisi rumah, ayah ibu tidak ada dan mungkin sudah di sawah. Ku lihat keluar, “Ini sudah tidak malam lagi, kemana bulan? Mengapa udara kini panas sekali? Mengapa aku tidak kuat memandangmu?” Kerlingan mata sayup-sayup mengerti. Itu matahari yang tadi malam membuahi si bulan. “Apa maksudnya datang di pagi ini? Kamu marah, hingga mencubit kami dengan sinarmu? Kamu mencari bulan dan bermain Obak Sodor dengannya?! Bulan tidak ada disini entah kemana! Aku juga tak mau bermain Obak Sodor denganmu. Kau tidak bisa bertemu dan bermain menjadi sepasang lakon bersama bulan.”
Kemana saja kau selama ini? Bulan pergi, serinya yang indah tak bisa sembunyikan isi perutkan. Kasihan bulan mengandung janin sendirian selama setegah bulan. Tadi malam ia telah melahirkan janinnya tanpa kehadiranmu. Dan untuk menghibur kesendiriannya, kami memerankan permainan Obak Sodor.
Obak Sodor, terambil dari kata Arab “Abiqun Shodaro”, artinya ‘Yang pergi, telah muncul kembali’. Itulah kisah yang dituturkan Wali Songo. Dan, kamilah anak-anak rembulan yang ia lahirkan pada malam bulan purnama itu, lalu dititipkan pada bumi hingga tumbuh dengan ceria. Dalam kurun 15 hari sekali bulan datang menjenguk kami, mengajak besama ibu pertiwi, menghibur kami dalam perminan Obak Sodor.
Malam adalah gaun pengantin bulan bertabur bintang di sela-sela mega putih. Hingga pada malam purna, matahari membuahi sang bulan. Tampak seonggok janin di bulatan bulan seperti batu dalam dekapan sang ibu. Kami, anak-anak bersorak ceria dan bermain gembira menyambutnya.
Kami berhamburan lepas dari rumah menuju tengah lapang dan bebas dari cengkeram kekhawatiran ayah bunda. Karena mereka percaya malam ini malam pengantin antara bulan dan matahari yang sedang kami rayakan di atas panggung ibu pertiwi bermain bersama di bawah sinar rembulan dalam permainan Obak Sodor.
Malam ini giliran ibu yang jadi lakon, harus bersedia menemukan kami yang bersembunyi dengan mata tertutup. Awalnya si lakon membungkukkan badannya untuk memberi kesempatan kami mencari tempat sembunyi. Dan mencuri kelengahan si lakon agar ia terus “jadi”. Namun biar pun sang ibu membungkuk mencari kami, kami pun akan ditemukannya karena di bantu bulan. Setiap kegelapan yang kami sembunyikan diri, selalu terintai oleh sinar bulan dan ibu hanya cukup menggerakkan punggungnya ke kanan memudahkan kami goyang dan jatuh di tangan lawan.
Hingga larut malam kami kelelahan bermain dan dengan basah kuyup keringat menuju rumah, beringkus bantal di atas bayang. Tidur lelap.
Hari pun terang menyerngitkan sinar panasnya di kulit kami. Lama kelamaan, “Aduh...!” Seperti ada yang mencubit lenganku. Aku pun terbangun dan termangu menerka-nerka dengan isi kepala yang baru setengah ini,”Siapa tadi?”
Kucari seisi rumah, ayah ibu tidak ada dan mungkin sudah di sawah. Ku lihat keluar, “Ini sudah tidak malam lagi, kemana bulan? Mengapa udara kini panas sekali? Mengapa aku tidak kuat memandangmu?” Kerlingan mata sayup-sayup mengerti. Itu matahari yang tadi malam membuahi si bulan. “Apa maksudnya datang di pagi ini? Kamu marah, hingga mencubit kami dengan sinarmu? Kamu mencari bulan dan bermain Obak Sodor dengannya?! Bulan tidak ada disini entah kemana! Aku juga tak mau bermain Obak Sodor denganmu. Kau tidak bisa bertemu dan bermain menjadi sepasang lakon bersama bulan.”
Kemana saja kau selama ini? Bulan pergi, serinya yang indah tak bisa sembunyikan isi perutkan. Kasihan bulan mengandung janin sendirian selama setegah bulan. Tadi malam ia telah melahirkan janinnya tanpa kehadiranmu. Dan untuk menghibur kesendiriannya, kami memerankan permainan Obak Sodor.
Obak Sodor, terambil dari kata Arab “Abiqun Shodaro”, artinya ‘Yang pergi, telah muncul kembali’. Itulah kisah yang dituturkan Wali Songo. Dan, kamilah anak-anak rembulan yang ia lahirkan pada malam bulan purnama itu, lalu dititipkan pada bumi hingga tumbuh dengan ceria. Dalam kurun 15 hari sekali bulan datang menjenguk kami, mengajak besama ibu pertiwi, menghibur kami dalam perminan Obak Sodor.
Komentar
Posting Komentar