KELESUAN MULOK
Telah sepeluh tahun melangkah. Kini sama sama kita dapat merasakan eksistensi kurikulum mulok yg telh dibangun dulu. Namun juga kita melihat sekarang gejala degradasi inci demi inci ditengah kemapanan lembaga. Keberpihakan kita pd mulok tidak kemudian diimbangi dngn konsistensi untuk melestarikannya membuat ia hanya spt selingan belaka.
Bahwa kita tlh berupaya menjaganya namun terkdang dipandang sbg pemksaan ditgh hiruk pikuk kegiatan vokalisasi. Maka patut bertanya apakah mulok sukar beradaptasi dngn lokal. Atau para pelakunya krg mampu melakukan asimilasi budaya keilmuan pesantren dan terjebak dalam tuntutan formal.
Mengapa ini terjadi....
Seolah kita memberikan anak-anak kita uang receh, lalu mereka manyun karrn ternyt uang itu tak lagi laku. Dan kita berusaha merayu mrk, memberi penjlasn dgn retorika yg tak mrk pahami bhw itu adlh uang real yg kelak kan laku setelh dikruskan rupiah. Dan mereka pun lari menjauh.
Sang ayah kini lesu dgn sikap anaknya. Gelisah akan masa depan anaknya kelak.
Sang guru jg mengalami kegamangan orientasi kehidupan anak didiknya. Kejumudan yg memuncak kala dibangku melihat anak sdg menggambar sambil gemetar tangannya.
Kegelisahan itu melebihi doa karena ia bahkn tlh mempraktekkan namun menemui kegagalan. Introspeksi sbg wujud kepasrahan yg lebih besae dr pd hars menagih janji.
Jiwanya mengalami subtil atau kekosongan secara determinan menyikapi persoalan yg sekilas tampak paradog dan ironis.
Bahwa kita tlh berupaya menjaganya namun terkdang dipandang sbg pemksaan ditgh hiruk pikuk kegiatan vokalisasi. Maka patut bertanya apakah mulok sukar beradaptasi dngn lokal. Atau para pelakunya krg mampu melakukan asimilasi budaya keilmuan pesantren dan terjebak dalam tuntutan formal.
Mengapa ini terjadi....
Seolah kita memberikan anak-anak kita uang receh, lalu mereka manyun karrn ternyt uang itu tak lagi laku. Dan kita berusaha merayu mrk, memberi penjlasn dgn retorika yg tak mrk pahami bhw itu adlh uang real yg kelak kan laku setelh dikruskan rupiah. Dan mereka pun lari menjauh.
Sang ayah kini lesu dgn sikap anaknya. Gelisah akan masa depan anaknya kelak.
Sang guru jg mengalami kegamangan orientasi kehidupan anak didiknya. Kejumudan yg memuncak kala dibangku melihat anak sdg menggambar sambil gemetar tangannya.
Kegelisahan itu melebihi doa karena ia bahkn tlh mempraktekkan namun menemui kegagalan. Introspeksi sbg wujud kepasrahan yg lebih besae dr pd hars menagih janji.
Jiwanya mengalami subtil atau kekosongan secara determinan menyikapi persoalan yg sekilas tampak paradog dan ironis.
Komentar
Posting Komentar